Kemerdekaan

Wes Wayahe Merdeka Rek!

Siswa dan Guru SMP Muhammadiyah 6 Surabaya bersemangat mnyambut hari kemerdekaan Indonesia.

Oleh : Ustad Ganjar Indrawan, S.Pd

Seperti kita ketahui di berbagai daerah, setiap 17 Agustus banyak dirayakan dengan bermacam-macam lomba, biasanya dinamai lomba agustusan. Tujuan untuk memperingati kemerdekaan yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan. Selain itu tujuan diadakan berbagai lomba hanya untuk kesenangan semata, sehingga banyak mengundang bragam kalangan dari yang tua sampai muda. Maka dari itu lomba-lomba tersebut harus tetap hadir dan meriah sampai saat ini.

Keseruan Ustad Dikky, Ustad Purnomo, dan Ustad Lukman berlomba balap karung.

Di tempat kami SMP Muhammadiyah 6 Surabaya pun tidak ketinggalan turut memeriahkan dengan mengadakan beberapa lomba mualai hari Selasa – Kamis (14-16/ 08)  seperti makan kerupuk yang memiliki filosofi kesulitan pangan pada masa penjajahan akibat dari hasil panen diambil penjajah. Ada juga lomba balap karung yang menggambarkan pedihnya zaman penjajahan, terutama pada saat pendudukan jepang, pada saat itu Indonesia begitu sangat miskin sampai-sampai tidak mampu membeli kebutuhan sandang, akhirnya karung goni sebagai gantinya. Ada juga sepeda lambat yang mengandung filosofi “biar lambat asal selamat”.

Keseruan lomba makan kerupuk.

Kemerdekaan sendiri memiliki arti penting bagi kehidupan rakyat Indonesia. Meski sudah 73 tahun Indonesia merdeka namun tidak seluruh elemen masyarakat merasakan kemerdekaan sepatutnya. Menurut kamus Bahasa Indonesia, merdeka adalah bebas dan lepas dari segala macam penjajahan. Macam-macam penjajahan bisa berupa penjajahan ekonomi, politik, sosial.

Di bidang ekonomi tantangan mengisi kemerdekaan salah satunya yaitu memikirkan bagaimana mmberdayakan kegiatan ekonomi masyarakat kecil menengah ke bawah dengan menggandeng masyarakat ekonomi menengah atas, mendidik menjadi seorang pengusaha dengan meninggalkan mindset seorang karyawan atau bisa dibilang jadilah seorang bos jangan mau menjadi pesuruh atau jongos karena pesuruh atau jongos adalah peninggalan penjajah.

Di bidang politik pasca reformasi seperti saat ini, bangsa kita masih terjajah dengan salah satunya adanya isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan). Tantangan saat ini adalah bagaimana mengisi kemerdekaan dengan membebaskan negara eksploitasi dan kapitalisasi isu SARA. Dengan begitu, setiap individu dan kelompok dalam masyarakat mampu hidup dalam keselarasan dan kesetaraan berdasarkan perbedaan nilai-nilai budaya yang dimilikinya. Karena perbedaan adalah kodrat sejarah yang harus dimaknai sebagai kekayaan nilai-nilai yang dapat disinergikan untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan, kebodohan dan ketidaksejahteraan.

Leave a Reply